KH Fadli Yani Ainusyamsi: Pemimpin Umat Islam Harus Adil, Amanah dan Menjauhi Keserakahan

 


Tokoh agama sekaligus pengasuh majelis keislaman, KH Fadli Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Ang Icep, menegaskan bahwa inti dari kepemimpinan dalam Islam bukan terletak pada kekuasaan maupun popularitas, melainkan pada akhlak, amanah, serta ketulusan dalam melayani umat karena Allah SWT.

Menurutnya, seorang pemimpin umat Islam harus memiliki lima karakter utama, yakni adil, amanah, tidak sombong atau angkuh, mampu menanamkan sikap hormat kepada yang lebih tua, serta menjauhi sifat serakah.

“Pemimpin yang baik bukan yang sibuk mencari pujian manusia, tetapi yang hadir dengan hati, bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT,” ujar Ang Icep dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, sejarah Islam telah banyak memberikan teladan tentang kepemimpinan sederhana namun penuh ketegasan dan kasih sayang kepada rakyat. Salah satu contoh besar adalah sosok Umar bin Khattab yang dikenal sebagai pemimpin tegas, sederhana dan sangat dekat dengan masyarakat kecil.

Meski menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab hidup tanpa kemewahan. Dalam berbagai kisah sahabat Rasulullah SAW, Umar bahkan pernah memanggul sendiri gandum untuk rakyat yang kelaparan. Sikap tersebut dilakukan bukan untuk pencitraan, melainkan karena dorongan hati dan rasa tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

“Keteladanan Umar bin Khattab menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mau turun langsung membantu rakyatnya, bukan hanya memerintah dari atas,” kata Ang Icep.

Selain para sahabat Nabi, Ang Icep juga menyinggung teladan para ulama sufi yang mengajarkan pentingnya kerendahan hati dalam memimpin. Menurutnya, banyak ulama terdahulu memilih hidup sederhana agar dapat lebih dekat dengan umat dan terhindar dari penyakit hati seperti riya, sombong, maupun cinta dunia berlebihan.

Ia menambahkan, dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, nilai-nilai kepemimpinan Islam harus terus ditanamkan, terutama kepada generasi muda. Sikap menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, serta menjauhi kerakusan dinilai menjadi pondasi penting untuk menjaga persatuan dan keberkahan dalam kehidupan sosial.

“Kalau pemimpin memiliki hati yang bersih, amanah, dan tidak tamak, maka masyarakat akan merasakan keadilan dan ketenteraman,” ujarnya.

Ang Icep berharap umat Islam dapat meneladani akhlak Rasulullah SAW, para sahabat, serta ulama saleh dalam membangun kehidupan yang penuh kasih sayang, kejujuran dan keadilan.

Dengan demikian, kepemimpinan bukan hanya menjadi jabatan, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Allah SWT dan pelayanan tulus kepada umat.

 

 

Reuni Akbar IKADA Ciamis, Alumni Pesantren Didorong Jadi Solusi Kebangsaan

 


Ratusan alumni Pesantren Darussalam Ciamis dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten menghadiri reuni akbar dan pelantikan kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni Darussalam (IKADA) di Padepokan Aswaja, Ciputat Timur, Jumat (15/5/2026).

Kegiatan berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Alumni lintas generasi hadir untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat jejaring sosial dan kontribusi pesantren bagi masyarakat.

Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan alumni, mulai dari akademisi, birokrat, pengusaha, pendidik, tokoh agama, hingga aktivis sosial yang kini berkiprah di berbagai bidang.

Pembina IKADA Ciamis wilayah Jabodetabek dan Banten, Ahmad Tholabi Kharlie atau Kang Abie, mengatakan alumni pesantren memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

“Alumni pesantren hari ini sudah banyak mengisi berbagai sektor penting di masyarakat. Mereka hadir sebagai penggerak sosial, penjaga moral publik, sekaligus rujukan dalam persoalan keumatan,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Menurutnya, pendidikan pesantren membentuk karakter, integritas, kedalaman ilmu, dan ketahanan sosial yang menjadi modal penting bagi para alumni untuk terus berkontribusi bagi bangsa.

Kang Abie menegaskan potensi besar alumni pesantren perlu terus dikembangkan agar mampu menghadirkan karya nyata dan pengabdian sosial yang lebih luas.

“Pemikiran dan karya nyata alumni pesantren sangat dibutuhkan bangsa ini. Potensi besar yang dimiliki harus terus diarahkan untuk memberi manfaat bagi pembangunan Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan hubungan antarsesama alumni sebagai modal sosial dalam membangun kemaslahatan masyarakat.

Sementara itu, Pembina IKADA Pusat sekaligus pengasuh pesantren, K.H. Fadli Yani Ainusyamsi atau Ang Icep, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan akhlak, amanah, dan ketulusan.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang hadir dengan hati dan bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT,” ujarnya.

Menurut Ang Icep, nilai-nilai kepemimpinan Islam seperti keadilan, kerendahan hati, dan kepedulian sosial harus terus ditanamkan kepada generasi muda pesantren.

Ia juga mencontohkan keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat sebagai gambaran pemimpin yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.

Reuni akbar tersebut menjadi bukti kuatnya jejaring sosial pesantren yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Dari lingkungan pesantren lahir generasi yang membawa semangat keilmuan, pengabdian, dan keteladanan dalam berbagai bidang kehidupan.

 

 

 

 

 

Reuni Akbar Alumni Pesantren Darussalam Ciamis Perkuat Jejaring dan Semangat Pengabdian

 


Ratusan alumni Pesantren Darussalam Ciamis dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten menghadiri reuni akbar dan pelantikan kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni Darussalam (IKADA) di Padepokan Aswaja, Ciputat Timur, Jumat (15/5/26).

Kegiatan berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Alumni lintas generasi hadir untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat jejaring sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejak pagi, area padepokan dipenuhi suasana akrab. Para alumni mengenang masa mondok, perjuangan para guru, hingga perjalanan hidup masing-masing yang kini berkiprah di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrat, pengusaha, pendidik, tokoh agama, hingga aktivis sosial.

Reuni tersebut tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan terkait kontribusi pesantren dalam pembangunan bangsa. Alumni pesantren dinilai memiliki peran penting dalam menjaga nilai moral, memperkuat harmoni sosial, dan menghadirkan keteladanan di tengah masyarakat.

Pembina IKADA Jabodetabek-Banten, Ahmad Tholabi Kharlie atau Kang Abie, mengatakan alumni pesantren kini telah berkontribusi di berbagai sektor kehidupan nasional.

“Alumni pesantren hari ini sudah banyak mengisi seluruh aspek kenegaraan dan sektor-sektor penting di masyarakat. Perannya dirasakan sebagai penggerak sosial, penjaga moral publik, sekaligus menjadi rujukan dalam berbagai persoalan keumatan,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Menurutnya, pesantren memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter, integritas, kedalaman ilmu, dan ketahanan sosial santri. Nilai-nilai itu menjadi bekal penting bagi alumni untuk terus berkontribusi di tengah masyarakat.

Kang Abie menegaskan bangsa Indonesia membutuhkan pemikiran dan karya nyata dari alumni pesantren untuk mendukung pembangunan nasional.

“Pemikiran dan karya nyata alumni pesantren ditunggu bangsa ini. Potensi besar yang dimiliki para alumni perlu terus ditingkatkan dan diarahkan untuk memberi sumbangsih nyata bagi pembangunan Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan hubungan antarsesama alumni. Menurutnya, jejaring alumni pesantren merupakan modal sosial yang besar untuk mendorong kemaslahatan masyarakat.

“Hubungan alumni pesantren perlu dibangun secara kompak dan berkelanjutan sehingga seluruh potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Pembina IKADA Pusat sekaligus pengasuh pesantren, K.H. Fadli Yani Ainusyamsi atau Ang Icep, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan akhlak, amanah, dan ketulusan dalam melayani umat.

Menurutnya, kepemimpinan dalam Islam berkaitan erat dengan tanggung jawab moral dan pengabdian kepada masyarakat.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang hadir dengan hati dan bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT,” ujarnya.

Ang Icep menjelaskan, seorang pemimpin harus memiliki sifat adil, amanah, rendah hati, menghormati yang lebih tua, serta menjauhi sikap tamak. Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam menjaga persatuan dan ketenteraman sosial.

Ia juga mencontohkan keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat kecil.

“Keteladanan Umar bin Khattab menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mau turun langsung membantu rakyatnya,” katanya.

Selain itu, Ang Icep mengajak generasi muda pesantren untuk terus menjaga tradisi hormat kepada guru, memperkuat kasih sayang antarsesama, dan mempertahankan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Reuni akbar tersebut menjadi bukti kuatnya jejaring sosial alumni pesantren yang terus hidup dan berkembang. Dari lingkungan pesantren lahir generasi yang berkiprah di berbagai bidang dengan membawa semangat keilmuan, pengabdian, dan keteladanan.

 

 

 

 

Alumni Pesantren Menyatu untuk Bangsa Reuni Akbar Darussalam Ciamis di Ciputat Meneguhkan Peran Santri dalam Ruang Kebangsaan

 


Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kawasan Padepokan Aswaja, Ciputat Timur, Rabu (1/5/2026). Ratusan alumni Pesantren Darussalam Ciamis dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten berkumpul dalam pelantikan kepengurusan sekaligus reuni akbar alumni. Pertemuan itu menghadirkan wajah-wajah lintas generasi yang selama ini tersebar di berbagai sektor kehidupan nasional, mulai dari dunia pendidikan, birokrasi, hukum, politik, dakwah, hingga kewirausahaan.

Momentum tersebut berkembang menjadi ruang konsolidasi nilai, penguatan jejaring sosial, serta peneguhan kembali posisi alumni pesantren dalam kehidupan kebangsaan. Para alumni tampak memenuhi area padepokan sejak pagi hari. Percakapan hangat tentang masa-masa mondok, keteladanan para guru, hingga tantangan umat dan bangsa mengalir sepanjang kegiatan.

Kegiatan itu juga menjadi penanda kuatnya jejaring alumni pesantren yang terus hidup dan bergerak di tengah masyarakat. Dari ruang pendidikan tradisional berbasis nilai-nilai keislaman, lahir sumber daya manusia yang kini mengambil peran penting dalam berbagai bidang kehidupan nasional.

Pembina Ikatan Keluarga Alumni Darussalam (IKADA) Ciamis wilayah Jabodetabek dan Banten, Ahmad Tholabi Kharlie, yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan bahwa alumni pesantren saat ini telah hadir dan mewarnai hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat. Menurutnya, kontribusi alumni pesantren telah dirasakan secara nyata dalam kehidupan sosial, keagamaan, pendidikan, pemerintahan, hingga ruang-ruang pengabdian masyarakat lainnya.

“Alumni pesantren hari ini sudah banyak mengisi seluruh aspek kenegaraan dan sektor-sektor penting di masyarakat. Perannya telah dirasakan sebagai penggerak sosial, penjaga moral publik, sekaligus menjadi rujukan dalam berbagai problem keumatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pesantren selama ini memiliki kekuatan dalam membangun karakter, integritas, kedalaman ilmu, serta daya tahan sosial para santri. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi alumni untuk terus memberi manfaat di tengah masyarakat.

Menurut Kang Abie, demikian beliau akrab disapa, bangsa Indonesia memerlukan kontribusi nyata dari kalangan pesantren dalam memperkuat etika sosial, menjaga harmoni kebangsaan, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Pemikiran dan karya nyata alumni pesantren, kata dia, menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan nasional.

“Pemikiran dan karya nyata alumni pesantren ditunggu bangsa ini. Potensi besar yang dimiliki para alumni perlu terus ditingkatkan dan diarahkan untuk memberi sumbangsih nyata bagi pembangunan Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarsesama alumni secara guyub, kompak, dan saling menguatkan. Menurutnya, jejaring alumni pesantren merupakan modal sosial yang sangat besar apabila terus dirawat dalam semangat kebersamaan dan pengabdian.

“Hubungan alumni pesantren perlu dibangun secara kompak dan berkelanjutan sehingga seluruh potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pembina IKADA Pusat sekaligus pengasuh pesantren Darussalam Ciamis, K.H. Dr. Fadli Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Ang Icep, menyampaikan pesan-pesan kepemimpinan Islam yang bertumpu pada akhlak dan keteladanan.

Menurutnya, inti kepemimpinan dalam Islam terletak pada amanah dan ketulusan dalam melayani umat. Kepemimpinan dipahami sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT serta pelayanan kepada masyarakat.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang hadir dengan hati dan bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT,” ujarnya.

Ang Icep menjelaskan bahwa seorang pemimpin umat harus memiliki karakter adil, amanah, rendah hati, menghormati yang lebih tua, serta menjauhi sifat tamak. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga ketenteraman sosial dan persatuan masyarakat.

Ia mencontohkan keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal hidup sederhana dan dekat dengan rakyat kecil. Dalam berbagai riwayat sejarah Islam, Umar digambarkan turun langsung membantu masyarakat yang mengalami kesulitan karena rasa tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT.

“Keteladanan Umar bin Khattab menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mau turun langsung membantu rakyatnya,” kata Ang Icep.

Ia juga mengingatkan pentingnya menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Islam kepada generasi muda pesantren agar tetap menjaga tradisi hormat kepada guru, kasih sayang antar sesama, serta menjauhkan diri dari sikap rakus terhadap dunia.

Reuni akbar alumni Darussalam Ciamis itu memperlihatkan bahwa pesantren tetap memiliki energi sosial yang besar dalam merawat kehidupan kebangsaan. Dari lingkungan pesantren lahir jejaring manusia yang terus bergerak mengisi kehidupan masyarakat dengan semangat pengabdian, keilmuan, dan keteladanan. []

 

Wamen Dikdasmen Dr. Fajar Riza Ul Haq Bernostalgia Saat Mengunjungi Kampus Almamaternya di MAKN Darussalam Ciamis

CIAMIS, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. berkunjung ke kampus Almamaternya Pondok Pesantren Darussalam Ciamis pada hari Kamis, (13/2).

Ia mengunjungi Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dalam rangka Silaturrahim dan Orasi ilmiah kepada santri Pondok Pesantren Darussalam Ciamis sekaligus peresmian Pusat Kemahiran Bahasa Asing di SMA Plus Darussalam Ciamis.

Sebagai salah satu alumni terbaik Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MAN PK) Darussalam Ciamis, kehadiran Fajar Riza menjadi inspirasi bagi para santri sehingga kedatanganya disambut antusias oleh ribuan santri dan santriwati yang berkumpul untuk mendengarkan sambutannya.

Kunjungan Fajar Riza ke Ponpes Darussalam turut disambut oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Andang Firman, serta para Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam dan Keluarga Pesantren.

Momentum ini menjadi kesempatan berharga bagi para santri untuk meneladani perjuangan dan dedikasi para alumni yang telah sukses di berbagai bidang, sekaligus mempererat hubungan antara alumni dan almamater mereka

Dalam orasi ilmiahnya beliau memompa motivasi para junior untuk terus belajar dan menuntut ilmu dengan serius dan sungguh di Pesantren Darussalam Ciamis ini beliau juga bersyukur bisa berku jung kembali ke Ranah Indah Nyiur Melambai Darussalam Ciamis yang telah melahirkanya menjadi manusia seperti sekarang.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kritis sejak dini, terutama dalam berinteraksi dengan media sosial, agar para santri mampu memilah informasi yang benar dan mencerdaskan generasi Indonesia dalam penggunaan teknologi.

“Saya merasa Darussalam memiliki sistem pendidikan yang sangat baik dan mampu melahirkan alumni yang berkembang serta berkompetisi dengan sumber daya manusia lainnya. Darussalam adalah laboratorium perkaderan pemimpin bangsa, dan ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Ciamis,” ujar Dr. Fajar.

"Saya dulun seperti kalian tidur dikobong, makan, canda, tawa, nyuci sama seperti kalian tapi kalian bisa lebih dari saya, santri memiliki kesempatan yang luas untuk berkiprash di masyarakat bisa menjadi apapun karena kalian diberikan dasar yang kuat tentang agama" Lanjutnya

Riza mejelaskan hebatnya Moto darussalam yang salah satunya harus menjadi mukmin diplomat merupakan Moto yang hebat "moto yang sangat visioner dibuat Pak Kiyai Irfan Hielmy Almagfurlah dan mampu menjawab persoalan saat ini sehingga kita mampu menjembatani segala pandangan terkait perbedaan baik itu dari segi Politik, Fiqih dan lain sebagainya" ujarnya

"Selama 3 tahun di Darussalam Ciamis saya tidak pernah terpikirkan dan terimpikan dalam tidur saya akan menjadi seperti sekarang ini, tentu ini adalah anugerah dan berokah dari guru-guru saya termasuk dari para Kiyai di Darussalam Ciamis, saya juga berharap kalian para santri harus berani bermimpi dengan tekad yang kuat intinya kalian harus berkiprah untuk memberikan manfaat, apa yang diajarkan di Darussalam ikuti dengan seriusi, dan berani tampil" pungkas Dr Fajar

Selain memberikan Orasi dan Meresmikan Pusat Pemahiran Bahasa Asing, beliau juga berkunjung dan meninjau langsug proses pembelajaran serta berkesempatan menyanyikan mars MALTA dengan peserta didik MAN PK di Kampus Atas.

Kepala Madrasah Idan Nurdiana berharap kunjungan Wamen Dr. Fajar ke Kampus Almamaternya memberikan suntikan motivasi semangat untuk para peserta khususnya MAN PK untuk terus mengejar mimpi tekad dengan penuh kesungguhan dan keseriusan.

"Kunjungan Pak Wamen yang merupakan salah satu alumni terbaik MAKN sekarang MAN PK mudah-mudahan memberikan suntikan Motivasi semangat bagi peserta didik MAN PK sehingga mereka terdorong untuk terus mengajar cita-citanya dan menjadi orang yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan terus mempersiapkan diri untuk masa depan" Idan.

Muhammad Isnur Soroti Ancaman Kekuasaan Tanpa Kendali dalam Penegakan Hukum Indonesia


Jakarta, Muhammad Isnur Ketua YLBHI dan juga Alumni Darussalam Ciamis dalam Artikel opini di Jakartapost (17 Desember 2025) berjudul The Looming Legal Tsunami: Unchecked Power in Indonesia membahas meningkatnya pendekatan keamanan dalam penegakan hukum Indonesia pada 2025 yang dinilai mengancam demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi sipil. Tulisan ini menyoroti revisi Undang-Undang TNI dan KUHAP yang memperluas kewenangan militer dan kepolisian tanpa pengawasan memadai, serta minimnya partisipasi publik dalam proses legislasi.

Artikel juga mengulas dampak proyek strategis nasional, program makan bergizi gratis, dan keterlibatan militer dalam sektor sipil yang memicu konflik agraria, penggusuran masyarakat adat, serta kriminalisasi warga. Penanganan demonstrasi publik yang represif, termasuk penangkapan massal dan pelanggaran prosedur hukum, memperkuat kekhawatiran akan lahirnya “tsunami hukum” akibat kekuasaan negara yang tidak terkendali.

https://www.thejakartapost.com/opinion/2025/12/17/the-looming-legal-tsunami-unchecked-military-power-in-indonesia.html?utm_campaign=os&utm_source=mobile&utm_medium=ios  

Berikut tulisan lengkapnya.

The looming legal tsunami: Unchecked power in Indonesia

By Muhamad Insur
Jakarta

The Indonesian law enforcement landscape in 2025 is defined by a security-centric approach, signaling a troubling shift toward militaristic governance that imperils human rights and civilian supremacy.

This administration’s approach to legislation has been chaotic, characterized by rapid, opaque revisions of the Law on the Indonesian Military (TNI) and the Criminal Law Procedures Code (KUHAP). These processes neglected meaningful public participation and subjectively expanded the powers of security agencies — the TNI and the police — without adequate oversight.

Meanwhile, ambitious initiatives such as the national strategic projects (PSN), the food estates and the free nutritious meal program have been implemented with little public engagement, leading to systematic human rights violations that favor oligarchic interests.

Data substantiates these criticisms. From 2023 to 2025, the Indonesian Legal Aid Foundation (YLBHI) documented 216 incidents in areas designated for PSN, while the National Commission on Human Rights (Komnas HAM) received 114 complaints related to PSN from 2020 to 2023. The Agrarian Reform Consortium reported that 36 of 79 agrarian conflicts were directly linked to PSN infrastructure projects.

The eviction of residents in Rempang, Riau Islands, in December 2024 highlights alarming prioritization of security measures over community rights to facilitate the Rempang Eco City project. This approach is mirrored in the “green corridor” disputes in North Kalimantan. The Indigenous Maba Sangaji community in East Halmahera faced criminalization while attempting to protect their ancestral lands from nickel mining.

Furthermore, the nickel mining project in Merauke, South Papua, which aims to utilize 2 million hectares of land under military leadership, has displaced local communities, including the Malind, Maklew, Yei and Khimaima peoples. The military presence and plans for territorial transformation have created fertile ground for conflict.

President Prabowo Subianto’s flagship free meals program has also plagued by structural flaws, including a lack of legal foundation and transparency. The allocation of Rp71 trillion (US$4.4 billion), 30 percent of the education budget, is concerning, especially amid over 9,000 reported cases of food poisoning across 83 districts as of Sept. 30.

Implementation is heavily influenced by military interests, with 70 percent of training materials for implementers being military-centric, and benefits disproportionately favoring the military, political elites and officials.

The expanding role of the military in the civilian sphere is legalized by the new TNI law. This law contains problematic clauses, including the expansion of civilian positions that active TNI soldiers can occupy. These controversial articles were enabled by expedited deliberations held at a rapid pace.

Crucially, the revised TNI law broadens the military’s authority into areas traditionally covered by Military Operations Other Than War (MOOW). Units will be formed at the District Military Command (Kodim) level. These battalions and units will encompass agricultural, livestock, fishery and health sectors.

President Prabowo’s policies further extend military involvement in governance. For instance, Presidential Regulation No. 66/2025 authorizes military involvement at the Attorney General’s Office. This pattern extends to natural resource security, demonstrated by the Forest Area Enforcement Task Force. The justification for military participation in forestry and illegal mining enforcement reinforces public perceptions of a strained, competitive relationship between the TNI and the police.

This security approach, fueled by public discontent, culminated in widespread demonstrations across Indonesia from Aug. 25 to 28. Peaceful protests were met with repressive police actions, including the use of tear gas and forcible dispersal, despite legal protections for freedom of expression.

The protests were driven largely by lawmakers’ perceived apathy toward public economic struggles. The aggressive police response demonstrated a failure to protect citizens, instead treating them as security threats rather than individuals exercising their rights. This repression was evident in mass arrests: Over 5,444 individuals were detained, including 997 suspects (265 of whom were minors).

An analysis by YLBHI of the mass arrests revealed 11 patterns of police violations, including restrictions on access to legal representation, arbitrary arrests by plainclothes personnel, arrests without evidence, marathon interrogations, forced summaries of witnesses who later became suspects, illegal searches and seizures without warrants, and the confiscation of books and zines to fabricate a narrative of “anarchism”.

The escalation of state violence and the indifference of political leaders led to the formation of the “17+8 People’s Reformation” (Transformasi Rakyat). Key long-term demands include comprehensive reforms of the House of Representatives, political parties, the tax system and the police, as well as a call for the immediate enactment of an asset forfeiture law.

However, the Prabowo administration has largely ignored these demands. Furthermore, its response to police reform has been inadequate, particularly following the KUHAP amendments passed in November. These amendments grant extensive powers to law enforcement without sufficient oversight.

The new KUHAP includes problematic provisions, notably granting the National Police coordination under direct presidential authority. This risks transforming the police into a “superbody,” undermining the independence of institutions like the National Narcotics Agency and Customs, and contradicting the goals of genuine police reform.

Other key issues include granting coercive powers for arrests and detentions during preliminary investigations and allowing law enforcement to conduct searches, seizures and wiretaps without judicial supervision. This raises serious concerns regarding privacy violations and the misuse of personal data.

The absence of regulatory frameworks creates a void in technical guidelines, leading to potential conflicts of authority, especially with the police acting primarily within the military’s domain.

The rushed implementation of the new KUHAP without a transitional period poses immense challenges for law enforcement preparedness, exacerbated by its timing near the year-end and holiday season.

Observations over the past year reveal increasing concerns about the rise of securitization in Indonesia. The TNI has transitioned into a “multifunction” role, potentially gaining even more power than it held during its historical “dual function” (dwifungsi).

Additionally, the enhanced roles of both the police and military in the legal domain, combined with insufficient safeguards against arbitrary actions, suggest that a “legal tsunami” is threatening the integrity of the country’s law enforcement system.

Terjemahan 

Gelombang Tsunami Hukum yang Mengancam: Kekuasaan Tanpa Kendali di Indonesia

Lanskap penegakan hukum di Indonesia pada 2025 ditandai oleh pendekatan keamanan yang semakin menguat, menandai pergeseran yang mengkhawatirkan menuju tata kelola militeristik yang berpotensi menggerus hak asasi manusia dan supremasi sipil.

Pendekatan pemerintah saat ini terhadap legislasi dinilai kacau, tidak transparan, dan tidak akuntabel, sebagaimana tercermin dalam perubahan besar terhadap Undang-Undang TNI dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Proses-proses tersebut mengabaikan partisipasi publik yang bermakna dan secara subjektif memperluas kewenangan aparat keamanan, khususnya TNI dan kepolisian, tanpa pengawasan yang memadai.

Sementara itu, berbagai inisiatif ambisius seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), program lumbung pangan, dan program makan bergizi gratis telah dijalankan dengan minim transparansi publik. Hal ini memicu kekhawatiran sistematis terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang mengutamakan kepentingan oligarkis.

Data memperkuat kritik terhadap proyek-proyek strategis tersebut. Pada periode 2023–2025, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mendokumentasikan 216 insiden di wilayah PSN, sementara Komnas HAM menerima 114 pengaduan terkait PSN dari 2020 hingga 2023. Laporan Agrarian Reform Consortium mencatat bahwa 36 dari 79 konflik agraria secara langsung berkaitan dengan proyek PSN.

Kasus penggusuran warga di Rempang, Kepulauan Riau, pada Desember 2024 menunjukkan prioritas keamanan yang mengkhawatirkan atas hak-hak masyarakat demi memuluskan proyek Rempang Eco City. Pola serupa terlihat pada sengketa lahan “koridor hijau” di Kalimantan Utara. Masyarakat adat Maba Sangaji di Halmahera Timur mengalami kriminalisasi saat mempertahankan tanah adat mereka dari ancaman tambang nikel.

Lebih lanjut, proyek nikel di Merauke, Papua Selatan, yang bertujuan memanfaatkan dua juta hektare lahan di bawah kepemimpinan militer, telah menggusur masyarakat lokal, termasuk suku Malind, Maklew, Yei, dan Khimaima. Kehadiran militer dan rencana transformasi wilayah tersebut memicu potensi konflik serius.

Program makan bergizi gratis yang menjadi unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga menghadapi persoalan struktural, termasuk lemahnya dasar hukum dan kurangnya transparansi. Alokasi anggaran Rp71 triliun (sekitar US$4,4 miliar), setara 30 persen dari anggaran pendidikan, dipertanyakan, terutama di tengah lebih dari 9.000 kasus keracunan pangan yang dilaporkan di 83 distrik hingga 30 September.

Implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada kepentingan militer, dengan 70 persen materi pelatihan bagi pelaksana bersifat militeristik. Manfaat kebijakan pun dinilai tidak proporsional, lebih menguntungkan militer, elite politik, dan pejabat tertentu.

Peran militer yang semakin meluas di ranah sipil semakin dilegalkan melalui Undang-Undang TNI yang baru. Undang-undang ini mengandung ketentuan problematik, termasuk perluasan posisi sipil yang dapat ditempati prajurit TNI aktif. Pasal-pasal kontroversial ini disahkan melalui sidang legislatif yang dipercepat.

Yang lebih krusial, revisi Undang-Undang TNI memperluas kewenangan militer ke wilayah yang selama ini berada di bawah operasi militer selain perang (OMSP). Unit-unit baru akan dibentuk di tingkat Komando Distrik Militer (Kodim), dengan cakupan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kesehatan.

Presiden Prabowo juga mengesahkan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2025 yang mengatur keterlibatan militer di kantor Kejaksaan Agung. Pola ini meluas ke sektor keamanan sumber daya alam, sebagaimana terlihat dalam pembentukan Satgas Penegakan Hukum Hutan. Keterlibatan militer dalam penegakan hukum kehutanan dan pertambangan ilegal memperkuat persepsi hubungan yang tegang, bahkan kompetitif, antara TNI dan kepolisian.

Pendekatan keamanan yang semakin menguat ini, dipicu oleh ketidakpuasan publik, memuncak dalam demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Indonesia sejak Agustus. Laporan YLBHI mengenai penanganan aksi-aksi tersebut menunjukkan praktik represif, termasuk penggunaan gas air mata, pembubaran paksa, serta penangkapan massal meskipun terdapat jaminan kebebasan berekspresi.

Lebih dari 5.444 orang ditahan, termasuk 997 anak (265 di antaranya perempuan). Analisis YLBHI terhadap penangkapan massal ini mengungkap berbagai pelanggaran serius, seperti pembatasan akses bantuan hukum, penangkapan sewenang-wenang, interogasi berkepanjangan, pemaksaan pengakuan, penggeledahan dan penyitaan tanpa surat perintah, serta penyitaan buku dan zine untuk membangun narasi “anarkisme”.

Eskalasai kekerasan negara dan sikap acuh elite politik memicu pembentukan “People’s Reformation” (Transformasi Rakyat). Dalam jangka panjang, tuntutan ini mencakup reformasi menyeluruh DPR, partai politik, sistem perpajakan, dan kepolisian, serta seruan pembatalan segera undang-undang negara represif.

Namun, pemerintahan Prabowo sebagian besar mengabaikan tuntutan tersebut. Respons terhadap reformasi kepolisian pun dinilai tidak memadai, terutama setelah perubahan KUHAP disahkan pada November. Amandemen ini memberikan kewenangan luas kepada aparat penegak hukum tanpa pengawasan yang memadai.

KUHAP yang baru mengandung sejumlah ketentuan bermasalah, termasuk pembentukan Kepolisian Nasional di bawah koordinasi langsung presiden. Hal ini berisiko mengubah kepolisian menjadi “superbody”, melemahkan independensi lembaga seperti BNN dan Bea Cukai, serta bertentangan dengan prinsip reformasi kepolisian yang sejati.

Ketentuan lain mencakup pemberian kewenangan koersif untuk penangkapan dan penahanan pada tahap penyelidikan awal, serta izin penggeledahan, penyitaan, dan penyadapan tanpa pengawasan yudisial. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pelanggaran privasi dan penyalahgunaan data pribadi.

Ketiadaan kerangka regulasi yang jelas menciptakan kekosongan pedoman teknis, berpotensi menimbulkan konflik kewenangan, terutama ketika kepolisian bertindak di luar yurisdiksi militernya. Penerapan KUHAP yang terburu-buru tanpa masa transisi menimbulkan tantangan besar bagi kesiapan aparat penegak hukum dan memperparah ketimpangan sistem peradilan pidana.

Pengamatan selama setahun terakhir mengungkap meningkatnya sekuritisasi di Indonesia. TNI telah bertransformasi menjadi aktor multifungsi, berpotensi melampaui peran historisnya pada masa dwifungsi ABRI. Peningkatan peran polisi dan militer dalam ranah hukum, tanpa perlindungan memadai dari tindakan sewenang-wenang, mengisyaratkan datangnya “tsunami hukum” yang mengancam integritas sistem penegakan hukum nasional.


 

Pesantren Darussalam Hidupkan Dakwah Lewat Nada : Ratusan Alumni Ramaikan Gelaran Naduah”

 


Pondok Pesantren Darussalam Ciamis menggelar kegiatan Naduah (Nada dan Dakwah) pada Selasa malam di kompleks pesantren Darussalam. Gelaran ini menjadi media syiar melalui seni sekaligus penyemangat bagi para santri menjelang ujian.

Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Dr. H. Fadlil Yani Ainusyamsi, M.Ag., atau Kang Icep, Rabu (19/11/2025) menjelaskan bahwa program Naduah merupakan agenda yang telah lama dirancang. Semula konser direncanakan digelar di luar pesantren, namun pada akhirnya dipusatkan di kampus Darussalam.

“Kita ingin masyarakat lebih mengenal dunia pesantren. Bahwa pesantren bukan seperti sebagian anggapan yang dianggap anti budaya dan seni. Justru Darussalam menjadi salah satu pesantren yang menyiarkan dakwah melalui seni,” ujar Kang Icep.

Kegiatan ini dimeriahkan oleh para alumni Darussalam yang telah berkiprah di dunia seni, seperti Resto, Riza Hilman, dan Jamru. Dua artis alumni lainnya, Fa’ang Wali dan Ruri Republik, belum dapat hadir karena urusan keluarga, namun direncanakan tampil pada gelaran berikutnya.

Antusiasme masyarakat, alumni, dan pecinta musik terlihat sejak sore hingga malam. Para sesepuh musik, musisi muda, hingga komunitas pecinta seni hadir memberikan dukungan moral kepada santri.

Selain syiar, konser Naduah juga bertujuan memberikan suntikan motivasi bagi santri menjelang ujian. “Kami ingin para santri lebih giat dan semangat belajar. Acara ini sekaligus menjadi penyegar bagi mereka,” tutur Kang Icep.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Icep mengungkapkan bahwa dirinya memiliki lebih dari 40 lagu ciptaan, sekitar 20 di antaranya sudah direkam. Sebanyak 18 lagu dibawakan dalam konser oleh para vokalis Darussalam yang tergabung dalam Hafmi, terdiri dari 14 santri yang tampil bersama para mentor.

Ia menegaskan bahwa pendekatan dakwah di era kini memerlukan sentuhan yang lebih segar agar tidak menimbulkan kejenuhan di tengah masyarakat. Karena itu, Darussalam memilih seni sebagai medium dakwah, dengan tetap menjaga nuansa religius dan nilai-nilai Islam.

“Seni yang kita pilih tetap bernuansa religius. Genre musik juga disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, tanpa membedakan gender, selama tujuannya untuk dakwah,” katanya.

Naduah direncanakan menjadi agenda rutin tahunan yang akan diintegrasikan dengan momentum besar pesantren seperti Hari Pahlawan, Maulid Nabi, dan peringatan penting lainnya. Ke depan, tidak menutup kemungkinan kegiatan ini berkolaborasi dengan event tingkat kabupaten.

Pelaksanaan Naduah tahun ini pun mendapat dukungan luas, mulai dari pejabat, tokoh masyarakat, komunitas otomotif, hingga para pengusaha. Acara juga disiarkan secara streaming agar alumni di berbagai daerah dapat mengikuti secara langsung.

“Kehadiran mereka saja sudah menjadi bentuk kontribusi. Banyak yang hadir dari kalangan pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat hingga komunitas hardtop. Alhamdulillah semuanya memberi energi positif,” ujar Kang Icep.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Darussalam kembali menegaskan komitmennya menyebarkan dakwah dengan pendekatan seni yang santun, kreatif, dan kaya nilai keagamaan. 

Tulisan telah diterbitkan di https://mediasakti.id/2025/11/20/pesantren-darussalam-hidupkan-dakwah-lewat-nada-ratusan-alumni-ramaikan-gelaran-naduah/ 

 

3 Dekade MAPK, Telorkan 50 Professor, 9 Diantaranya dari MAPK Darussalam Ciamis, Ini Daftarnya

 


Ciamis, Kementerian Agama RI, Kamis (21/9/2023) siang, menyerahkan surat keputusan (SK) guru besar dan penetapan angka kredit bagi 116 dosen dari sejumlah perguruan tinggi Islam negeri dan swasta. Penyerahan SK di  Operation Room Lt.2 Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat Nomor 3-4 Jakarta Pusat.

Seremoni penyerahan dihadiri langsung Sekjen Kemenag RI Prof Dr HM Nizar Ali, dan jajaran direktur dari Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. Dari 116 guru besar itu, tujuh diantaranya adalah alumnus ‘Pesantren Negeri”, Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) se-Indonesia.

“Setahu saya tadi ada 7, ada juga satu perempuan dari MAPK Surakarta, termasuk Prof Burhanuddin Muhtadi,” kata Prof Dr Abdul Majid MA, alumnus MAPK Ujungpandang yang kini jadi guru besar di UIN Samarinda, Kalimantan Timur.

Alumnus MAPK yang dikukuhkan siang tadi antara lain, Prof Dr Burhanuddin Muhtadi (MAPK Surakarta), Prof Dr Suryani (MAPK Surakarta), Prof Dr Abdul Majid (MAPK Ujungpadang), Prof Dr Halim Talli (MAPK Ujungpandang), Prof Dr Erwin Hafid (MAPK Ujungpandang), dan Prof Dr Nunu Burhanuddin (MAPK Ciamis).

Pejabat struktural dari Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Dr Amiruddin Kuba, SAg, MA, kepada Tribun, mengkonfirmasikan, kini setidaknya ada sekitar 49 alumnus MAPK dari 11 unit MAPK/MAKN di Indonesia, yang tercatat memegang jabatan akademik tertinggi di UIN. Bahkan, jumlah bisa mencapai 60 lebih jika dimasukkan dari guru besar di kampus lain.

“MANPK sejak 2,3 tahun terakhir telah menelorkan atau panen jenjang akademik tertinggi yaitu gelar Guru Besar,” kata alumnus MAPK Makassar 1994 ini.

MAPK adalah semacam pesantren negeri yang digagas Menteri Agama, Munawir Sadzali (1988-1983). Kini setelah 38 tahun, jumlah MAPK/MAN-PK atau MAKN di Indonesia berjumlah 11 unit.

Menurut Kuba, Kementerian Agama di masa Menteri Munawir Sadzali sebagai penggagas program ini, sangat berbangga dan beryukur atas prestasi dan pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan kehadiran negara dalam dunia pendidikan Islam, seperti di MANPK.

“Bukan hanya guru besar, alumni MANPK banyak berkiprah di bidang lain,” kata Kuba.

Saat itu seperti SMA Taruna Nusantara untuk pertahanan dan keamanan di Magelang, SMK Kehutanan, SMK Pertanian dan Perikanan, perhubungan dan kelautan. Untuk masuk di MAPK di empat tahun awal 1988, awalnya calon siswa harus mendapat rekomendasi dari departemen agama kabupaten/kota.

Desainnya, mereka adalah utusan dari kabupaten di lima provinsi; Sumbar (MAPK Padang Panjang), MAPK Ciamis (Jawa Barat), MAPK Jogyakarta (DIY), MAPK Ujungpandang/ Makassar (Sulsel). Tahun 1990, unit MAPK bertambah; MAPK Surakarta, MAPK Jakarta, MAPK Banda Aceh, MAPK Martapura, dan MAPK Nusa Tenggara Barat.

Kini setelah 38 tahun, jumlah MAPK/MAN-PK atau MAKN di Indonesia berjumlah 11 unit. Input santri MAPK dari pesantren dan madrasah tsanawiyah di regional MAPK.

Seleksi untuk masuk MAPK amat ketat, harus bisa berbahasa Arab dan membaca kitab kuning (gundul), hapal Alquran dan sejumlah hadis, bisa berbahasa Inggris. MAPK adalah project 'calon cendikiawan Muslim moderat. Bahasa Arab dan Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar wajib di kelas dan asrama.

Santrinya diasramakan, mendapat beasiswa, jatah buku mata pelajaran dan kitab, serta gurunya juga hasil seleksi dari pesantren.Tiap bulan, santrinya tanda-tangan terima jatah beasiswa dan jatah akomodasi. Model belajar klasikal dan sorongan pengajian ba'da shalat rawatib ala pesantren tradisional.Setiap MAPK ada laboratorium bahasa Inggris-Arab dengan fasilitas modern di masanya.

Di tahun 1992, almarhum Munawir Sjadzali  (1925-2004), merancang IAIN program khusus di Surakarta, sebagai institusi lanjutan para alumnus MAPK seluruh Indonesia.  Lokasinya kampusnya tak jauh dari kampung kelahiran Sang Menteri, Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Seleksi masuk di IAIN Plus ini juga mirip pendahulunya, MAPK, ketat.

Dosennya juga pilihan, dosen terbang dari UGM, UI, Unair, UNS, dan kampus ternama lain di Pulau Jawa.Hanya saja, proyek IAIN Plus filial IAIN Walisongo Semarang ini, tak berlanjut menyusul digantikannya Munawir sebagai menag. Tahun 2016 lalu, Rektor IAIN plus ini, adalah alumnus pertama MAPK Jogyakarta, Prof Dr Mudhofir Abdullah MA.

Kini setelah 38 tahun, jumlah MAPK/MAN-PK atau MAKN di Indonesia berjumlah 11 unit. Rerata atau hampir 88 persen guru besar yang dikukuhkan Kamis (21/9/2023) lalu, adalah tenaga pengajar di perguruan tinggi Islam negeri (UIN). Data lain, mengkonfirmasikan setengah guru besar alumnus MAPK itu menyelesaikan level magister, doktoral atau PHd-nya di kampus luare negeri dan Timur Tengah.

Menurut Kuba, Kementerian Agama di masa Menteri Munawir Sadzali sebagai penggagas program ini, sangat berbangga dan beryukur atas prestasi dan pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan kehadiran negara dalam dunia pendidikan Islam, seperti di MAPK.

“Bukan hanya guru besar, alumni MANPK banyak berkiprah di bidang lain,” kata Kuba.

Berikut daftar Professor Alumni dari MAPK Ciamis, Jawa Barat

1. Prof Muhamad Ali (California Riverside, USA)2. Prof Muhammad Irfan Helmy (UIN Salatiga)
2. Prof Adang Kuswaya (UIN Salatiga)
3. Prof Ahmad Ali Nurdin (UIN Bandung)
4. Prof Ahmad Tholabi Kharlie (UIN Jakarta)
5. Prof Abad Badruzzaman (UIN Tulungagung)
6. Prof Dzuriyatun Toyibah (UIN Jakarta)
7. Prof Didin Nurul Rosidin (IAIN Cirebon)
8. Prof Anita Rahmawaty (IAIN Kudus)
9. Prof Nunu Burhanuddin (IAIN Bukittinggi)


Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul 3 Dekade MAPK, Pesantren Negeri yang Telorkan 51 Professor, 5 Diantaranya Rektor, Ini Daftarnya, https://makassar.tribunnews.com/2023/09/21/3-dekade-mapk-pesantren-negeri-yang-telorkan-50-professor-5-diantaranya-rektor-ini-daftarnya?page=3. Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Ansar

Politik dan Persahabatan

 

Oleh: Prof. Ahmad Ali Nurdin, MA., Ph.D.
(Dekan FISIP UIN Bandung, Alumni MANPK Darussalam)


Lagi beres-beres rak buku.Tak sengaja terlihat buku yang menarik perhatian. Sudah lama  beli, tapi belum selesai dibaca. Padahal belinya nun jauh disana, di kota Amherst. Ketika sedang studi mendalami politik Amerika di University of Massachusetts. Tahun 2018 lalu. Judul bukunya Friendship and Politics: Essays in Political Thoughts.

Editornya, John von Heyking dan Richard Avramenko, menyebut bahwa sampai akhir abad pertengahan, persahabatan menjadi inti pemikiran-pemikiran politik. Baru pada era modern, isu persahabatan kehilangan posisi terhormatnya dari kajian filsafat politik. Isu ini tidak lagi menjadi konsen utama para pemikir politik dalam tradisi liberalisme.

Padahal, seperti kata Thomas Jefferson dalam pidato pertamanya jadi presiden Amerika, 4 Maret 1801, persahabatan lebih penting dari kebebasan sekalipun. “Let us restore to social intercourse that harmony and affections without which liberty and even life itself are but dreary things”, demikian Jefferson dalam First Inaugural-nya. Jefferson adalah presiden Amerika ketiga setelah George Washington dan John Adam. Ia disebut-sebut sebagai salah satu pencetus deklarasi kemerdekaan dan pendiri Amerika.

Heyking dan Avramenko mengatakan bahwa kumpulan essay dalam buku ini menunjukkan peran penting persahabatan dalam politik. Pendapat para politisi tentang persahabatan akan menunjukkan pendapat mereka tentang politik. Begitu sebaliknya, apa yang mereka katakan tentang politik, akan menunjukkan bagaimana pandangan mereka tentang persahabatan.

Bagi para pemikir pra-modern seperti Plato, Aristoteles, Cicero, Augustine dan Aquinas, hubungan antara persahabatan dan politik adalah sangat dekat. Sementara bagi para pemikir modern seperti Martin Luther, John Calvin, Thomas Hobbes, John Locke, Tocquiville, Nietsche dan lain-lain, hubungan antara persahabatan personal dan politik adalah lemah, renggang, meskipun tidak bisa dihilangkan. Dua pendapat yang berbeda.

Persahabatan bagi Aristoteles adalah “…reciprocated goodwill and some element of utility, pleasure, and moral and intellectual virtue”. Aristo memandang persahabatan sebagai kebajikan. Sahabat membantu sahabat lainnya untuk memperoleh pengetahuan agar sahabatnya menjadi bijak secara intelektual dan moral.

Visi persahabatan  Aristo berpengaruh terhadap bagaimana Aristo melihat politik.  Bagi Aristo, tujuan utama politik adalah hidup damai bahagia dalam  sebuah pemerintahan politis yang dijalankan dengan adil. Dan keadilan dipraktekan oleh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Tujuan politik bagi Aristo adalah mulia. Hidup damai, hidup bahagia. Dengan politik, kebahagiaan dan kedamaian masyarakat harusnya tercipta. Begitu juga dengan persahabatan. Persahabatan menjadi inti dari terciptanya kedamaian dan kebahagiaan. Sungguh mulia politik jika dipandang demikian.

Jika sekarang politik justru tidak identik dengan kedamaian dan kebahagiaan masyarakat, maka pertanyaan besarnya what went wrong with politics. Apa yang salah dengan politik?. Tradisi politiknya, budaya politiknya, pelaku politiknya atau apa?. Nampaknya, kaji ulang atas filsafat politik perlu dilakukan.

Jangan-jangan politik sekarang tidak lagi mengingat nilai-nilai persahabatan. Jangan sampai karena mengedepankan politik, mengorbankan persahabatan. Politik harus didasari oleh nilai persahabatan. Persahabatan harus menjadi ruh kita dalam berpolitik.

Ingat persahabatan. Ingat Rumi. Tepatnya Jalaluddin Muhammad Balkhi Rumi. Lebih dari delapan abad, Rumi telah memukau para pembaca dengan latar belakang agama yang berbeda-beda, dengan thema universal. Tentang cinta, tentang persahabatan dan spiritualitas.  Tema itu ia sajikan dalam puisi-puisinya yang menakjubkan.

Puisi Rumi berbahasa Persia banyak diterjemahkan oleh Nader Khalili ke dalam Bahasa Inggris. Khalili pernah mengumpulkan 120 puisi Rumi tentang persahabatan yang dibukukan berjudul The Friendship Poems of Rumi. Puisi-puisi Rumi secara sempurna mengekspresikan pentingnya persahabatan yang universal dengan berbagai bentuknya.

Persahabatan dipandang Rumi sebagai hadiah sempurna kehidupan. Rumi dengan indahnya mengekspresikan makna terdalam ‘menjadi’ dan ‘mempunyai’ seorang sahabat dalam kehidupan sebagai berikut:

find yourself a friend; who is willing to; tolerated you with patience; put to the test the essence; of the best incense; by putting it in fire; drink a cup of poison;
if handed to you by a friend; when filled with love and grace; step into the fire;
like the chosen prophet; the secret love will change; hot flames to a garden; covered with blossoms

Selain Rumi, Kahlil Gibran juga bicara tentang persahabatan. Penyair Libanon itu berkata: Sahabat adalah keperluan jiwa; yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati yang kau taburi dengan kasih; Dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.

Nampaknya dalam berpolitik. Kita perlu belajar dari Aristo, dari Rumi dan dari Gibran. Agar politik kita. Politik yang teduh. Politik yang menyejukkan. Politik yang didasari nilai-nilai persahabatan. Dahulukan persahabatan ketika berpolitik. Berpolitiklah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Siswa MAN 1 Darussalam Ciamis Ini Dapat Beasiswa Kuliah Kedokteran di Tiongkok


IKADA – Siswa kelas XII Peminatan Keagamaan Madrasah Aliyah Negeri 1 Darussalam Ciamis Ahmad Prince Adilla berhasil diterima di Gansu  University of TCM, Tiongkok pada jurusan kedokteran.

Ahmad Prince Adilla diterima melalui jalur beasiswa setelah bersaing dengan ribuan pelajar lain dari seluruh dunia. Prince -sapaan akrabnya- merupakan salah satu peserta didik berprestasi di MAN 1 Darussalam Ciamis, alumni MTsN 5 Jakarta ini masuk ke MAN 1 Darussalam Ciamis dan memilih program Peminatan Keagamaan karena ketertarikanya untuk memperdalam ilmu agama berkeinginan menjadi ulama.

Peserta Didik yang hobi traveling dan aktif berkegiatan sosial ini mengaku bersyukur atas keberhasilanya diterima di salah satu perguruan tinggi di Tiongkok dengan jalur Beasiswa melalui program The Silk & Belt Scholarship.

Dikutip dari https://www.chinesescholarshipcouncil.com/ bahwa Beasiswa Belt and Road adalah program beasiswa penuh yang ditawarkan oleh pemerintah Tiongkok kepada siswa internasional yang ingin melanjutkan studi sarjana, pascasarjana, atau doktoral di Tiongkok. Beasiswa mencakup biaya sekolah, akomodasi, dan tunjangan bulanan untuk biaya hidup.

“Alhamdulilah sangat bersyukur bisa diterima kuliah di Luar Negeri, penantian yang cukup panjang dengan seleksi yang lumayan berat tentu menjadi hal yang tak terlupakan apalagi ini jalur beasiswa,” ujar Prince dalam keterangan yang diterima pendis.kemenag.go.id, Selasa (1/8/2023).

Ia menuturkan, tahap penyeleksian dilaksanakan melalui dua tahap yaitu; seleksi berkas dan wawancara. Menurutnya, pada tahap seleksi berkas ini  memerlukan persiapan yang matang, kemudian pada tahap wawancara kata dia juga tergolong sulit termasuk harus ada sertifikat HSK atau IELTS kalau dalam bahasa Inggris.

Ketika ditanya kenapa memilih Negara Tiongkok Prince menjelaskan bahwa Tiongkok adalah negara maju. “Ya tentunya saya sangat yakin memilih China atau Tiongkok, selain tertarik karena mempelajari bahasanya yang sulit hal lain yang jadi pertimbanganya bahwa Tiongkok adalah negara maju dan besar sehingga dipastikan kualitas pendidikanya sangatlah baik, apalagi kedokteran di Tiongkok sangat terkenal canggih dan berkualitas ditambah peluang setelah lulus Insya Alloh akan mudah diterima oleh di dunia kerja,” lanjutnya.

Prince mengaku sangat beruntung bisa mengenal MAN 1 Darussalam Ciamis karena selain mendukung potensinya, ekosistem di sekolahnya juga sangat membantu dalam mengarahkan dan memberikan sejumlah pertimbangan untuk memilih perguruan tinggi yang tepat, terutama kepada para siswa yang memang memiliki minat khusus untuk belajar di luar negeri.

“Ucapan terima kasih dan takdzim saya kepada seluruh pendidik di MAN 1 Darussalam Ciamis ini yang telah membimbing dan menempa saya selama 3 tahun ini, mudah-mudahan beliau semua diberikan usia yang panjang dan berkah serta Alloh SWT mudahkan dalam segala aktivitasnya.amiin,” pungkasnya.

Kepala MAN 1 Darussalam Ciamis Bapak Idan Nurdiana, menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat serta apresiasi yang tinggi pada Ananda Prince. 

“Alhamdulillah, Ananda Prince berhasil lulus beasiswa dari program Belt and Road Scholarship dari Tiongkok dan diterima di kampus Gansu University of TCM Jurusan Clinical Medicine (kedokteran) kampus yang berkualitas apalagi dengan beasiswa adalah hal yang sangat luar biasa. Semoga langkah awal ini akan bermanfaat dan membawa keberkahan untuk semuanya,” harapnya.

“Terima kasih pada seluruh dewan guru, orang tua dan semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada Ananda Prince, semoga prestasi membanggakan ini memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk melanjutkan jenjang pendidikan menengahnya di MAN 1 Darussalam Ciamis."

Sumber: https://pendis.kemenag.go.id/read/siswa-man-1-darussalam-ciamis-ini-dapat-beasiswa-kuliah-kedokteran-di-tiongkok

Selamat Atas pengangkatan Prof. Dr. K.H. Fadlil Munawar Manshur, M.S. sebagai Guru Besar Ilmu Budaya Arab UGM

 

 
Ciamis, Ikatan Keluarga Alumni Darussalam (IKADA) mengungkapkan rasa syukur atas pengangkatan Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Prof. Dr. K.H. Fadlil Munawwar Manshur, M.S sebagai Guru besar/Profesor dalam Bidan Ilmu Budaya Arab pada Departemen Antarbudaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (23/06/2023). 
 
Informasi ini pertama kali disampaikan oleh Prof. Dr. M. Irfan Hilmy, Guru Besar sekaligus juga Dekan Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah IAIN Salatiga di grup Whatapps IKADA Dosen se-Indonesia.



Ucapan selamat juga disampaikan oleh Civitas Academica FISIP UIN Jakarta dan Keluarga Besar Dosen Alumni Darussalam Ciamis.

Ketua Baznas Nasional, Rizaludin Kurniawan menyampaikan ucapan selamat "Alhamdulillah..selamat. ikut bangga dan senang. Berkah dan sukses slalu utk Ang Acep," katanya.

Dosen Universitas Indonesia, Abdul Muta'ali, Ph.D, juga turut mengungkapkan rasa bahagianya dan doanya untuk keberkahan Pesantren Darussalam Ciamis, "Alhamdulillah. Mubaarok Ang Acep. Berkah buat Darussalam," ungkapnya.

 


K.H. Irfan Hielmy : Ulama Kharismatik Penggagas Motto Muslim Moderat, Mukmin Demokrat, dan Muhsin Diplomat

 


Resensi Buku

Judul : K.H. Irfan Hielmy. Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan.
Penulis : Dadang Gani, Wahidin Rahmat, Dan Euis SRB.
Penyunting : M. Iqbal Dawami
Cetakan/Harga : Pertama/Januari 2021/Rp. 100.000
Tebal Halaman : 344 Halaman.
Penerbit : Maghza Pustaka, Margomulyo Pati Jawa Tengah.

Buku yang berjudul K.H. Irfan Hielmy. Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan yang ditulis/disusun oleh Dadang Gani, Wahidin Rahmat, Dan Euis SRB 19 ini menambah wawasan bacaan khazanah intelektual di dunia akademisi serta menambah tokoh intelektual yang lahir dari kalangan pesantren yang akan selalu dikenang. Nama Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy sudah begitu akrab terdengar di setiap hati masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia. Kehadiran buku ini menjelaskan adanya Tokoh pesantren yang sangat berpengaruh di Jawa Barat khususnya wilayah priangan timur.

Sejarah telah mencatat, Jawa Barat banyak melahirkan tokoh-tokoh paling berpengaruh, berbagai prestasi gemilang menghiasi langit-langit sejarah Jawa Barat, tanpa mengenal lelah mereka senantiasa menyebarkan manfaat bagi umat.

Buku ini dominan berwarna hijau dengan latar depan foto Al-Maghrurlah K.H. Irfan Hielmy..Buku ini terdiri dari tiga bab. Bab I buku ini menjelaskan sejarah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan sisi kepribadian K.H. Irfan Hielmy. Halaman pertama buku ini banyak mengupas awal berdirinya Pesantren Darussalam “Dari Pesantren Cidewa ke Pesantren Darussalam”. Mama Achmad Fadil sang ayah dari K.H. Irfan Hielmy adalah Pendiri Pesantren Cidewa.

Berdiri sejak era kolonial belanda tepatnya di tahun 1929. Pesantren Cidewa sebutan untuk pesantren yang baru berdiri ketika itu. Pesantren Cidewa dengan cepat mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat sekitar. Pada tahun berikutnya minat orang tua mengirimkan putra-putranya untuk dididik semakin banyak dan berkembang sampai dengan saat ini, sehingga menjadi pesantren terbaik di tatar sunda.

Dari sisi guru-guru ditemukan Sanad keilmuan Al-Maghfurlah K.H. Ifan Hielmy, selain belajar langsung dengan Mama Achmad Fadhil, Al-Mahghfurlah pun belajar dengan cara sorogan dalam waktu yang relatif singkat ke beberapa kyai, seperti belajar tasawuf kepada : K.H Abdul Halim (Abah Majalengka), Prof Dr.Buya Hamka, K.H. Hasyim Asy’ari dan Ajengan Zenal Mustofa. Belajar ilmu alat dan Ushul Fiqih kepada K.H Ishak Farid dan K.H. Ahmad Sanusi. Belajar ilmu Al-Qur’an kepada K.H. Ahmad Siradj di Pondok Pesantren Cijantung dan beberapa ulama lainya di Jawa Barat. (hal. 12)

Di buku ini dijelaskan bahwa pada Tahun 1953 setelah Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy menuntaskan pendidikan di Sekolah Dagang beliau berangkat menuju Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur untuk memperdalam ilmu agama, tetapi belum tiba di sana, beliau terserang penyakit typus dan gangguan pencernaan, sehingga menghentikan perjalananya. Setelah dirawat beberapa hari di RS Jebres Surakarta, beliau kembali ke Dewasari Ciamis dan tidak jadi belajar di Gontor. Pun diantara sebab perubahan nama Pesantren Cidewa Menjadi Darussalam karena beliau terinspirasi dengan Pondok Modern Darussalam Gontor yang banyak berhasil dan sukses mencetak para santrinya. (hal. 20)

Dijelaskan pula dalam buku ini bahwa pada Tahun 1975 lahirlah Motto Pesantren Darussalam, yaitu Muslim Moderat, Mukmin Demokrat, dan Muhsin Diplomat sebagai upaya menempatkan Pesantren Darusslam untuk semua umat. Motto ini lahir setelah Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy berdiskusi dengan Dr. Moch. Natsir, yang pada waktu itu menjabat sebagai Presiden Rabithah al-Islami dan ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII). (hal. 23)

Muslim Moderat adalah sosok manusia muslim yang bersikap luwes, tenggang rasa, bersolidaritas etis dan sosial, hormat kepada sesama, jauh dari sikap angkuh, congkak, dan ingin menang sendiri. Mukmin Demokrat adalah sosok manusia mukmin yang berakar ke bawah dan berpucuk ke atas. Pada saat di panggung kekuasaan, dia tidak melupakan rakyat yang telah membesarkannya, begitu pun saat ia turun dari panggung kekuasaan dan harus kembali dengan rakyat, dia tidak patah semangat dan tidak putus harapan. Muhsin Diplomat adalah sosok manusia yang mencintai kebajikan, keindahan, memiliki sopan santun dan berakhlak mulia.

Di buku ini dijelaskan bahwa Semasa hidupnya Al-Maghfurlah K.H Irfan Hielmy aktif di dua organisai keagamaan terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. Di NU Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Ketua GP Ansor dan jajaran ketua Ma’arif NU Ciamis. Di Muhammadiyah beliau aktif sebagai Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) dan menjadi Guru PGA Muhammadiyah tahun 1953-1954.

Maka wajar jika kiranya para alumni Pesantren Darussalam Ciamis diberikan kebebasan dalam memilih sesuai dengan karakter dan kesenangan serta kecocokan yang dirasakan oleh masing-masing alumni dalam berjuang dengan tetap dalam bingkai persatuan dan kesatuan agar perbedaan itu menjadi rahmat untuk seluruh alam. (hal. 30).

Bab II buku ini fokus membahas pikiran-pikiran Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy. Berbagai macam sudut pandang/gagasan/ide/fikiran dituangkan dalam bab ini. Yang menjadi sangat menarik perspektif sudut pandang fikiran ini muncul dari keluarga terdekat dan para alumni seperti ; Prof. Dr. Jaih Mubarok, Prof. Muhammad Ali, Ph.D. Prof. Ahmad Ali Nurdin, Ph.D. Nur Hidayah, Ph.D. Dr. Ahmad Tholabi dan beberapa alumni lainya. Pandangan dari para penulis yang dituangkan dalam buku ini sudah pasti sangat objektiv, karena hubungan yang terjalin sangat erat secara emosional antara kyai, santri dan keluarga.

Berbagai macam tema yang tertuang dalam buku ini menggambarkan ragam ruang fikiran Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy. Seperti Wanita Dalam Islam, Sistem Pendidikan Islam, Dakwah Dan Syiar Islam, Korelasi antara Pesantren, Masyarakat dan Pemerintah, Wacana Islam Tentang Hukum, Pendidikan dan Tasawuf, Ukhuwah Ahlussunnah, Wasathiyah Islam dan Khairu Ummah, Masyarakat Madani, Konsep Insan Kamil, Kriteria Pemimpin Idaman dan Pembahasan Mengenai Cinta dan Akhlak.

Setelah membaca bab ini, maka para pembaca akan berkesimpulan begitu dalam dan luasnya pengetahuan/pemikiran keilmuan dan keislaman Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy. (hal 60-272)
Bab III berisi pikiran-pikiran dan amanat serta nasehat Al-Maghfurlah K.H Irfan Hielmy untuk umat dan para santri/alumni. Mulai dari mars dan himne Darussalam disertai penjelasan arti bait-baitnya, amanat janji santri, amanat buku album kenangan santri, tausiyah dalam berbagai kegiatan dan kesempatan, serta amanat berupa tirakah amalan Doa Ismul A’dzham dan Ayatul Hifdzi yang selalu diamalkan secara terus menerus oleh Al-Maghfurlah K.H. Achmad Fadhil dan K.H. Irfan Hielmy. (hal 274-296)

Bagian akhir buku ini berisi lampiran-lampiran ; foto-foto Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy dalam berbagai kegiatan, profil lengkap dan terkini sekolah, kampus dan Pesantren Darussalam Ciamis. (hal 298-340)

Buku ini sangat layak dimiliki dan dibaca oleh para santri, alumni dan masyarakat umum sebagai bukti dan pengingat spirit perjuangan serta pengabdian Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy akan keberhasilan beliau membentuk fondasi keilmuwan, keislaman dan keindonesiaan bagi para santri dan alumninya yang sukses di bidangnya.

Atas kipras, pengabdian dan jasa Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy ketika hidup, sungguh beliau sangat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah RI.

Do’a kami para santri untuk Al-Maghfurlah K.H. Irfan Hielmy semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, diampuni dan dimaafkan segala dosa dan kesalahan serta mendapatkan tempat terindah di sisi Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamiiin.

*Penulis adalah Alumni Madrasah Aliyah Keagamaan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis Tahun 2000 / Kepala SDIT Nurul Fajri / ketua MUI Cikarang Barat-Bekasi.

 Sumber: https://radarbekasi.id/2021/06/18/k-h-irfan-hielmy-ulama-kharismatik-penggagas-motto-muslim-moderat-mukmin-demokrat-dan-muhsin-diplomat/

Manaqib K.H. Irfan Hielmy, Sang Kiai Moderat


 

 

Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A.

TAK banyak buku biografi yang lahir dari kalangan pesantren. Seringnya, buku kisah perjalanan muncul dari kalangan pejabat, tokoh politik, atau kalangan umara. Padahal, kisah perjalanan para mudir al-ma’had atau ulama tak kalah penting untuk dikupas. Kisah pengembaraan ilmu (tafaqquh fi al-din), perjuangan syiar agama Islam, hingga perjuangan di jalur pendidikan menarik untuk diteladani. Banyak kisah inspiratif yang wajib diteladani oleh generasi penerusnya.

Judul BukuK.H. Irfan Heilmy Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan
PenulisDadang Gani, Wahidin Rahmat, dan Euis SRB
ISBN978-602-5824-98-2
CetakanI, Januari 2021
PenerbitMaghza Pustaka, Pati

Buku yang dominan warna hijau dengan latar foto Almaghfurlah K.H. Irfan Hielmy ini seperti menjawab tentang masih minimnya literatur buku berjenis biografi atau autobiografi dari kalangan ulama. Buku yang terdiri atas tiga bab ini secara tematik membahas tentang kisah perjalanan kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Kiai Irfan Hielmy. Persis seperti judul buku ini.

Bab I buku ini secara khusus mengupas dua hal, yakni mengenai sejarah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan sisi pribadi Kiai Irfan Hielmy. Sejarah salah satu pondok pesantren terbaik di tatar Sunda ini dikupas di tiga tulisan pertama. Seperti perubahan nama pesantren dari Cidewa ke Pesantren Darussalam, termasuk mengupas bagaimana didikan ayahanda Kiai Irfan Hielmy, yakni K.H. Achmad Fadlil, terhadap Ibrahim Achmad, nama kecil Kiai Irfan Hielmy.

Pembaca akan menjumpai sejumlah informasi menarik mengenai sejarah perkembangan pesantren yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda ini.  Di bab ini, pembaca juga akan disuguhi informasi mengenai sanad keilmuan Kiai Irfan Hilemy, seperti K.H. Abdul Halim (Majalengka) yang telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2008, termasuk Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Sanusi Cisaat Sukabumi, dan K.H. Achmad Siradj.

Menariknya, di bab ini juga terungkap fakta keaktifan Kiai Irfan Hielmy di dua ormas keislaman, yakni NU dan Muhammadiyah. Kiai Irfan Hielmy menjadi Wakil Ketua GP Ansor, Ketua GP V Banser, serta menjadi salah satu ketua Ma’arif NU Ciamis. Kiai Irfan juga pernah tercatat sebagai Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Ciamis dengan Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) 01. (hlm. 30).

Di bab II buku yang bersampul soft cover dan hard cover ini fokus membahas pikiran-pikiran Kiai Irfan Hielmy. Pelbagai sudut pandang muncul di bab ini. Menariknya, pelbagai perspektif itu muncul dari keluarga, para santri, dan alumni tentang pemikiran Kiai Irfan Hielmy. Tentu, di poin ini salah satu keistimewaan buku ini. Objektivitas pandangan dari para penulis dapat dijamin. Lantaran, hubungan antara penulis dengan objek yang ditulis memiliki hubungan yang cukup erat: antara santri dan kiai.

Pelbagai tema yang tertuang di bab ini menggambarkan ragam pikiran Kiai Irfan Hielmy di pelbagai tema persoalan. Seperti pembahasan mengenai sistem pendidikan Islam, dakwah dan syiar Islam, relasi antara masyarakat, pemerintah, dan masyarakat, kajian tentang hukum dan ilmu tasawuf, hukum tata negara Islam, kriteria pemimpin idaman, hingga membahas menganai cinta dan akhlak. Setelah membaca bab ini, pembaca akan berkesimpulan begitu dalamnya wawawan keislaman dan keilmuwan Kiai Irfan Hielmy.

Di bab III, sepenuhnya berisi tentang pikiran-pikiran Kiai Irfan Hielmy yang tertuang dalam pelbagai karya. Mulai mars dan himne Darussalam, amanat janji santri, taushiyah dalam pelbagai  kesempatan. Menariknya, di bab ini, terdapat syarah atau penjelasan dari teks karya Kiai Irfan Hielmy. Spesialnya, di bab ini dilampirkan beberapa amalan yang secara istikamah diamalkan oleh Almaghfurlah K.H. Achmad Fadlil dan almaghfurlah K.H. Irfan Hielmy, yakni doa ism al-a’zham dan ayat al- hifzh.

Di bagian akhir terdapat lampiran yang berisi profil terkini Pesantren Darussalam Ciamis. Bagian ini tak kalah penting sebagai informasi yang komprehensif tentang Darussalam terkini, termasuk apa saja proyeksi ke depan.

Buku ini sangat layak dimiliki untuk dibaca oleh santri, guru, alumni, dan masyarakat umum. Bagi alumni, buku ini dapat menjadi pengingat tentang kisah perjuangan Kiai Irfan Hielmy. Setidaknya, spirit perjuangan yang dimiliki beliau dapat terus tertanam dalam diri para alumninya dalam ladang pengabdian yang beragam.

Buku ini menjadi pembuktian tentang berkah kiai yang senantiasa tercurahkan  kepada para santrinya. Alumni Pesantren Darussalam Ciamis saat ini telah menyebar di pelbagai tempat pengabdian. Kiprah alumni Darussalam menjadi bukti keberhasilan Kiai Irfan Hielmy dalam membentuk fondasi keilmuwan, keislaman, dan keindonesiaan bagi para santrinya.

Penulis adalah Alumnus MAPK Pondok Pesantren Darussalam Tahun 1995/Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Sumber: https://masjiduna.com/2021/02/03/manaqib-k-h-irfan-hielmy-sang-kiai-moderat/