BANDUNG – Masjid Baitul Mu’min terus mendorong gerakan kepedulian lingkungan berbasis jamaah. Melalui program Baitul Mu’min Mepeling (Mesjid Peduli Lingkungan). Majelis Taklim Baitul Mu’min (MTBM) bekerja sama dengan mahasiswa dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB menggelar edukasi dan pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan larva Black Soldier Fly atau dikenal dengan sebutan magot BSF pada Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Baitul Mu’min ini diikuti oleh para jamaah Majelis Taklim Baitul Mu’min. Pelatihan tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, untuk memahami bahwa sampah dapur seperti sisa nasi, sayuran, buah, dan bahan organik lainnya masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan cara yang tepat.
Program ini berangkat dari persoalan sederhana yang hampir setiap hari dihadapi keluarga, yaitu banyaknya sisa makanan rumah tangga yang langsung dibuang ke tempat sampah. Jika tidak dikelola, sampah organik tersebut dapat menimbulkan bau, mengundang lalat, mencemari lingkungan, dan akhirnya menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melalui pelatihan ini, jamaah diajak melihat sampah bukan hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber manfaat.
Ketua DKM Masjid Baitul Mu’min, Ustaz Uwes Fatoni, menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Ayat Al-Quran surat Ar-Rum: 41 mengungkapkan tentang keruksakan yang terjadi di muka bumi itu disebabkan oleh ulah manusia. Jadi menurutnya seharunya Kita sebagai manusia harus menjaga alam. Salah satu cara menjaga alam adalah dengan mengolah sampah agar tidak terbuang dengan percuma. Ia mengutip Surat Ali-Imran: 191 yang menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan makhluk di alam semesta ini dengan ini sia-sia. Untuk itu sampah harus dikelola dengan baik termasuk memalui metode magot BSF.
“Sampah yang kita anggap sia-sia ternyata memiliki keberkahan jika dikelola dengan baik. Melalui metode magot BSF ini, kita tidak hanya mengurangi beban sampah di lingkungan, tetapi juga mengubah mindset bahwa sampah organik dapat diolah menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Ustaz Uwes.
Ia menambahkan, gerakan peduli lingkungan ini sesuai dengan tagline masjid, yaitu Baitul Mu'min Mepeling yaitu Mesjid Peduli Lingkungan. Jamaah menurut Ustaz Uwes harus mulai memiliki kebiasaan kecil mengelola sampah di rumah masing-masing. Dapur keluarga, menurutnya, bisa menjadi titik awal perubahan apabila setiap rumah tangga mulai memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri.
Ketua DKM ini lebih lanjut menjelaskan tentang perilaku positif yang harus dimiliki oleh umat Islam dengan meniru perilaku para ahli sufi. Menurutnya para ulama tasawuf memperkenalkan konsep Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Takhalli itu mengosongkan diri dari sifat tercela, tahalli mengisi diri dengan sifat terpuji dan Tajalli penampakan cahaya sinar ilahi dalam hatinya.
"Dengan 3 konsep tasawuf ini kita bisa mengimplementasikannya dalam perilaku menjaga lingkungan. Takhalli artinya kita singkirkan kebiasaan membuang sampah tanpa memilah. Tahalli kita mulai membiasakan diri memilah sampah paling tidak menjadi kelompok sampah organik, anorganik dan residu. Tajalli akan terwujud yaitu nampaknya nilai keindahan dalam lingkungan yaitu bersih dari sampah. Saya menyebut konsep Tajalli ini dengan kepanjangan kiTa JAga LIngkungan," ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa ITB yang terdiri dari Panji, Timoti, dan kawan-kawan memberikan penjelasan kepada jamaah tentang apa itu magot BSF, bagaimana siklus hidupnya, kebiasaan makannya, manfaatnya, serta cara merawatnya agar dapat digunakan untuk mengurai sampah organik rumah tangga.
Panji menjelaskan bahwa magot BSF merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly. Berbeda dengan lalat rumah yang sering dianggap sebagai pembawa penyakit, BSF memiliki karakteristik yang berbeda. Lalat BSF dewasa tidak tertarik pada makanan manusia seperti lalat rumah, dan fase larvanya justru sangat bermanfaat karena mampu mengurai sampah organik dengan cepat.
Dalam pemaparan materi, jamaah MTBM dikenalkan pada siklus hidup BSF, mulai dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Pada fase larva inilah magot memiliki peran paling besar dalam mengolah sampah organik. Larva BSF memakan bahan organik yang membusuk, seperti sisa sayur, buah, nasi, dan sisa makanan lainnya. Setelah tumbuh, magot dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, terutama untuk unggas dan ikan.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa kebiasaan makan magot menjadi alasan mengapa larva BSF efektif digunakan dalam pengolahan sampah rumah tangga. Magot mampu mengonsumsi sampah organik dalam jumlah besar sesuai kapasitas medianya. Karena itu, pengelolaan sampah dengan magot dapat membantu mengurangi volume sampah yang biasanya langsung dibuang ke luar rumah.
Selain mengenalkan teori, tim mahasiswa juga memberikan penjelasan praktis mengenai cara perawatan magot BSF. Peserta diajarkan bahwa media tempat magot harus dijaga agar tidak terlalu basah, tidak terlalu kering, serta memiliki sirkulasi udara yang cukup. Sampah yang diberikan juga perlu dipilih, terutama sampah organik yang mudah terurai. Peserta diingatkan agar tidak sembarangan memasukkan bahan yang terlalu berminyak, terlalu asin, atau bercampur bahan kimia karena dapat mengganggu pertumbuhan magot.
Para peserta juga mendapat penjelasan mengenai cara menetaskan telur BSF, menyiapkan wadah pemeliharaan, memilih media pakan, mengatur kelembapan, hingga mengetahui waktu panen. Dengan pendekatan praktik langsung, jamaah tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga dapat melihat bagaimana pengelolaan magot dilakukan secara sederhana dan memungkinkan diterapkan di rumah.
Ketua Majelis Taklim Baitul Mu’min, Ibu Leni Tresnawati, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan ibu-ibu rumah tangga, karena sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari aktivitas dapur.
“Ibu-ibu jamaah sangat terbantu dengan adanya praktik langsung ini. Ternyata mengolah sampah dengan magot tidak sesulit yang dibayangkan dan tidak menimbulkan bau jika caranya benar. Ini adalah langkah awal yang sangat baik bagi ibu-ibu rumah tangga untuk berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan dari dapur sendiri,” ujar Ibu Leni.
Menurutnya, sebagian peserta pada awalnya merasa ragu karena magot sering dianggap menjijikkan. Namun setelah mendapatkan penjelasan dan melihat manfaatnya secara langsung, peserta mulai memahami bahwa magot BSF memiliki fungsi penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Perubahan cara pandang ini menjadi salah satu capaian penting dari kegiatan edukasi tersebut.
Kegiatan pelatihan pengolahan sampah ini turut diapresiasi oleh Heru
Heryanto, Ketua RW 15. Ia melihat program tersebut sejalan dengan
program RW 15 yaitu rencana membuat rumah pengolahan sampah melengkapi
sarana lingkungan yang sudah ada saat ini yaitu tempat olah raga warga
(BSC) dan kolam ikan.
Melalui kolaborasi kegiatan ini, DKM Masjid Baitul Mu’min berharap jamaah dapat mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah. Sampah organik dapat dipisahkan dari sampah plastik, kertas, dan jenis sampah lain. Dengan pemilahan yang benar, sampah dapur dapat dimanfaatkan sebagai pakan magot, sementara sampah non-organik dapat dikelola melalui cara lain.
Kegiatan edukasi pengolahan sampah melalui magot BSF ini juga menjadi bentuk sinergi antara dunia akademik dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk menyampaikan ilmu, tetapi juga mendampingi jamaah agar dapat memahami teknologi sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
DKM Masjid Baitul Mu’min menilai kolaborasi seperti ini perlu terus dikembangkan. Masjid dapat menjadi pusat gerakan lingkungan yang menghubungkan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan dalam praktik nyata yang dapat dilakukan oleh setiap keluarga.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi gerakan pengelolaan sampah mandiri di lingkungan sekitar Masjid Baitul Mu’min. Dari dapur rumah tangga, jamaah diajak membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab bersama, sekaligus bagian dari ikhtiar memakmurkan masjid dan menyejahterakan jamaah.
Selesai acara, beberapa jamaah memberikan komitmennya untuk mulai mempraktekkan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan membeli perlengkapan maggot kits dan mulai membentuk kelompok Jamaah sahabat magot dengan membuat grup whatsapp khusus. Di grup ini jamaah yang sudah memiliki magot BSF akan melaporkan secara rutin perkembangan pengolahan sampahnya dengan magot. Diharapkan dalam jangka panjang akan semakin banyak jamaah masjid yang mengikuti langkah serupa.
Mahasiswa ITB juga diharapkan bisa terus melakukan pendampingan dengan memantau, memonitoring dan mengevalusi perkembangan praktek pengolahan sampah level rumah tangga di Masjid Baitul Mu'min tersebut, selain juga memperkenalkan program menjaga lingkungan lainnya. DKM Baitul Mu'min berharap bisa menjadi Masjid binaan mahasiswa ITB dalam menjaga lingkungan alam.
















