Tampilkan postingan dengan label featured. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label featured. Tampilkan semua postingan

Reuni Akbar Alumni Pesantren Darussalam Ciamis Perkuat Jejaring dan Semangat Pengabdian

 


Ratusan alumni Pesantren Darussalam Ciamis dari berbagai daerah di Jabodetabek dan Banten menghadiri reuni akbar dan pelantikan kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni Darussalam (IKADA) di Padepokan Aswaja, Ciputat Timur, Jumat (15/5/26).

Kegiatan berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Alumni lintas generasi hadir untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat jejaring sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejak pagi, area padepokan dipenuhi suasana akrab. Para alumni mengenang masa mondok, perjuangan para guru, hingga perjalanan hidup masing-masing yang kini berkiprah di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrat, pengusaha, pendidik, tokoh agama, hingga aktivis sosial.

Reuni tersebut tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan terkait kontribusi pesantren dalam pembangunan bangsa. Alumni pesantren dinilai memiliki peran penting dalam menjaga nilai moral, memperkuat harmoni sosial, dan menghadirkan keteladanan di tengah masyarakat.

Pembina IKADA Jabodetabek-Banten, Ahmad Tholabi Kharlie atau Kang Abie, mengatakan alumni pesantren kini telah berkontribusi di berbagai sektor kehidupan nasional.

“Alumni pesantren hari ini sudah banyak mengisi seluruh aspek kenegaraan dan sektor-sektor penting di masyarakat. Perannya dirasakan sebagai penggerak sosial, penjaga moral publik, sekaligus menjadi rujukan dalam berbagai persoalan keumatan,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Menurutnya, pesantren memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter, integritas, kedalaman ilmu, dan ketahanan sosial santri. Nilai-nilai itu menjadi bekal penting bagi alumni untuk terus berkontribusi di tengah masyarakat.

Kang Abie menegaskan bangsa Indonesia membutuhkan pemikiran dan karya nyata dari alumni pesantren untuk mendukung pembangunan nasional.

“Pemikiran dan karya nyata alumni pesantren ditunggu bangsa ini. Potensi besar yang dimiliki para alumni perlu terus ditingkatkan dan diarahkan untuk memberi sumbangsih nyata bagi pembangunan Indonesia,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan dan hubungan antarsesama alumni. Menurutnya, jejaring alumni pesantren merupakan modal sosial yang besar untuk mendorong kemaslahatan masyarakat.

“Hubungan alumni pesantren perlu dibangun secara kompak dan berkelanjutan sehingga seluruh potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Pembina IKADA Pusat sekaligus pengasuh pesantren, K.H. Fadli Yani Ainusyamsi atau Ang Icep, menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan akhlak, amanah, dan ketulusan dalam melayani umat.

Menurutnya, kepemimpinan dalam Islam berkaitan erat dengan tanggung jawab moral dan pengabdian kepada masyarakat.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang hadir dengan hati dan bekerja dengan ikhlas karena Allah SWT,” ujarnya.

Ang Icep menjelaskan, seorang pemimpin harus memiliki sifat adil, amanah, rendah hati, menghormati yang lebih tua, serta menjauhi sikap tamak. Nilai-nilai tersebut dinilai penting dalam menjaga persatuan dan ketenteraman sosial.

Ia juga mencontohkan keteladanan Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat kecil.

“Keteladanan Umar bin Khattab menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mau turun langsung membantu rakyatnya,” katanya.

Selain itu, Ang Icep mengajak generasi muda pesantren untuk terus menjaga tradisi hormat kepada guru, memperkuat kasih sayang antarsesama, dan mempertahankan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Reuni akbar tersebut menjadi bukti kuatnya jejaring sosial alumni pesantren yang terus hidup dan berkembang. Dari lingkungan pesantren lahir generasi yang berkiprah di berbagai bidang dengan membawa semangat keilmuan, pengabdian, dan keteladanan.

 

 

 

 

Politik dan Persahabatan

 

Oleh: Prof. Ahmad Ali Nurdin, MA., Ph.D.
(Dekan FISIP UIN Bandung, Alumni MANPK Darussalam)


Lagi beres-beres rak buku.Tak sengaja terlihat buku yang menarik perhatian. Sudah lama  beli, tapi belum selesai dibaca. Padahal belinya nun jauh disana, di kota Amherst. Ketika sedang studi mendalami politik Amerika di University of Massachusetts. Tahun 2018 lalu. Judul bukunya Friendship and Politics: Essays in Political Thoughts.

Editornya, John von Heyking dan Richard Avramenko, menyebut bahwa sampai akhir abad pertengahan, persahabatan menjadi inti pemikiran-pemikiran politik. Baru pada era modern, isu persahabatan kehilangan posisi terhormatnya dari kajian filsafat politik. Isu ini tidak lagi menjadi konsen utama para pemikir politik dalam tradisi liberalisme.

Padahal, seperti kata Thomas Jefferson dalam pidato pertamanya jadi presiden Amerika, 4 Maret 1801, persahabatan lebih penting dari kebebasan sekalipun. “Let us restore to social intercourse that harmony and affections without which liberty and even life itself are but dreary things”, demikian Jefferson dalam First Inaugural-nya. Jefferson adalah presiden Amerika ketiga setelah George Washington dan John Adam. Ia disebut-sebut sebagai salah satu pencetus deklarasi kemerdekaan dan pendiri Amerika.

Heyking dan Avramenko mengatakan bahwa kumpulan essay dalam buku ini menunjukkan peran penting persahabatan dalam politik. Pendapat para politisi tentang persahabatan akan menunjukkan pendapat mereka tentang politik. Begitu sebaliknya, apa yang mereka katakan tentang politik, akan menunjukkan bagaimana pandangan mereka tentang persahabatan.

Bagi para pemikir pra-modern seperti Plato, Aristoteles, Cicero, Augustine dan Aquinas, hubungan antara persahabatan dan politik adalah sangat dekat. Sementara bagi para pemikir modern seperti Martin Luther, John Calvin, Thomas Hobbes, John Locke, Tocquiville, Nietsche dan lain-lain, hubungan antara persahabatan personal dan politik adalah lemah, renggang, meskipun tidak bisa dihilangkan. Dua pendapat yang berbeda.

Persahabatan bagi Aristoteles adalah “…reciprocated goodwill and some element of utility, pleasure, and moral and intellectual virtue”. Aristo memandang persahabatan sebagai kebajikan. Sahabat membantu sahabat lainnya untuk memperoleh pengetahuan agar sahabatnya menjadi bijak secara intelektual dan moral.

Visi persahabatan  Aristo berpengaruh terhadap bagaimana Aristo melihat politik.  Bagi Aristo, tujuan utama politik adalah hidup damai bahagia dalam  sebuah pemerintahan politis yang dijalankan dengan adil. Dan keadilan dipraktekan oleh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Tujuan politik bagi Aristo adalah mulia. Hidup damai, hidup bahagia. Dengan politik, kebahagiaan dan kedamaian masyarakat harusnya tercipta. Begitu juga dengan persahabatan. Persahabatan menjadi inti dari terciptanya kedamaian dan kebahagiaan. Sungguh mulia politik jika dipandang demikian.

Jika sekarang politik justru tidak identik dengan kedamaian dan kebahagiaan masyarakat, maka pertanyaan besarnya what went wrong with politics. Apa yang salah dengan politik?. Tradisi politiknya, budaya politiknya, pelaku politiknya atau apa?. Nampaknya, kaji ulang atas filsafat politik perlu dilakukan.

Jangan-jangan politik sekarang tidak lagi mengingat nilai-nilai persahabatan. Jangan sampai karena mengedepankan politik, mengorbankan persahabatan. Politik harus didasari oleh nilai persahabatan. Persahabatan harus menjadi ruh kita dalam berpolitik.

Ingat persahabatan. Ingat Rumi. Tepatnya Jalaluddin Muhammad Balkhi Rumi. Lebih dari delapan abad, Rumi telah memukau para pembaca dengan latar belakang agama yang berbeda-beda, dengan thema universal. Tentang cinta, tentang persahabatan dan spiritualitas.  Tema itu ia sajikan dalam puisi-puisinya yang menakjubkan.

Puisi Rumi berbahasa Persia banyak diterjemahkan oleh Nader Khalili ke dalam Bahasa Inggris. Khalili pernah mengumpulkan 120 puisi Rumi tentang persahabatan yang dibukukan berjudul The Friendship Poems of Rumi. Puisi-puisi Rumi secara sempurna mengekspresikan pentingnya persahabatan yang universal dengan berbagai bentuknya.

Persahabatan dipandang Rumi sebagai hadiah sempurna kehidupan. Rumi dengan indahnya mengekspresikan makna terdalam ‘menjadi’ dan ‘mempunyai’ seorang sahabat dalam kehidupan sebagai berikut:

find yourself a friend; who is willing to; tolerated you with patience; put to the test the essence; of the best incense; by putting it in fire; drink a cup of poison;
if handed to you by a friend; when filled with love and grace; step into the fire;
like the chosen prophet; the secret love will change; hot flames to a garden; covered with blossoms

Selain Rumi, Kahlil Gibran juga bicara tentang persahabatan. Penyair Libanon itu berkata: Sahabat adalah keperluan jiwa; yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati yang kau taburi dengan kasih; Dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.

Nampaknya dalam berpolitik. Kita perlu belajar dari Aristo, dari Rumi dan dari Gibran. Agar politik kita. Politik yang teduh. Politik yang menyejukkan. Politik yang didasari nilai-nilai persahabatan. Dahulukan persahabatan ketika berpolitik. Berpolitiklah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan.

Manaqib K.H. Irfan Hielmy, Sang Kiai Moderat


 

 

Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A.

TAK banyak buku biografi yang lahir dari kalangan pesantren. Seringnya, buku kisah perjalanan muncul dari kalangan pejabat, tokoh politik, atau kalangan umara. Padahal, kisah perjalanan para mudir al-ma’had atau ulama tak kalah penting untuk dikupas. Kisah pengembaraan ilmu (tafaqquh fi al-din), perjuangan syiar agama Islam, hingga perjuangan di jalur pendidikan menarik untuk diteladani. Banyak kisah inspiratif yang wajib diteladani oleh generasi penerusnya.

Judul BukuK.H. Irfan Heilmy Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan
PenulisDadang Gani, Wahidin Rahmat, dan Euis SRB
ISBN978-602-5824-98-2
CetakanI, Januari 2021
PenerbitMaghza Pustaka, Pati

Buku yang dominan warna hijau dengan latar foto Almaghfurlah K.H. Irfan Hielmy ini seperti menjawab tentang masih minimnya literatur buku berjenis biografi atau autobiografi dari kalangan ulama. Buku yang terdiri atas tiga bab ini secara tematik membahas tentang kisah perjalanan kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Kiai Irfan Hielmy. Persis seperti judul buku ini.

Bab I buku ini secara khusus mengupas dua hal, yakni mengenai sejarah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dan sisi pribadi Kiai Irfan Hielmy. Sejarah salah satu pondok pesantren terbaik di tatar Sunda ini dikupas di tiga tulisan pertama. Seperti perubahan nama pesantren dari Cidewa ke Pesantren Darussalam, termasuk mengupas bagaimana didikan ayahanda Kiai Irfan Hielmy, yakni K.H. Achmad Fadlil, terhadap Ibrahim Achmad, nama kecil Kiai Irfan Hielmy.

Pembaca akan menjumpai sejumlah informasi menarik mengenai sejarah perkembangan pesantren yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda ini.  Di bab ini, pembaca juga akan disuguhi informasi mengenai sanad keilmuan Kiai Irfan Hilemy, seperti K.H. Abdul Halim (Majalengka) yang telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2008, termasuk Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Sanusi Cisaat Sukabumi, dan K.H. Achmad Siradj.

Menariknya, di bab ini juga terungkap fakta keaktifan Kiai Irfan Hielmy di dua ormas keislaman, yakni NU dan Muhammadiyah. Kiai Irfan Hielmy menjadi Wakil Ketua GP Ansor, Ketua GP V Banser, serta menjadi salah satu ketua Ma’arif NU Ciamis. Kiai Irfan juga pernah tercatat sebagai Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Ciamis dengan Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) 01. (hlm. 30).

Di bab II buku yang bersampul soft cover dan hard cover ini fokus membahas pikiran-pikiran Kiai Irfan Hielmy. Pelbagai sudut pandang muncul di bab ini. Menariknya, pelbagai perspektif itu muncul dari keluarga, para santri, dan alumni tentang pemikiran Kiai Irfan Hielmy. Tentu, di poin ini salah satu keistimewaan buku ini. Objektivitas pandangan dari para penulis dapat dijamin. Lantaran, hubungan antara penulis dengan objek yang ditulis memiliki hubungan yang cukup erat: antara santri dan kiai.

Pelbagai tema yang tertuang di bab ini menggambarkan ragam pikiran Kiai Irfan Hielmy di pelbagai tema persoalan. Seperti pembahasan mengenai sistem pendidikan Islam, dakwah dan syiar Islam, relasi antara masyarakat, pemerintah, dan masyarakat, kajian tentang hukum dan ilmu tasawuf, hukum tata negara Islam, kriteria pemimpin idaman, hingga membahas menganai cinta dan akhlak. Setelah membaca bab ini, pembaca akan berkesimpulan begitu dalamnya wawawan keislaman dan keilmuwan Kiai Irfan Hielmy.

Di bab III, sepenuhnya berisi tentang pikiran-pikiran Kiai Irfan Hielmy yang tertuang dalam pelbagai karya. Mulai mars dan himne Darussalam, amanat janji santri, taushiyah dalam pelbagai  kesempatan. Menariknya, di bab ini, terdapat syarah atau penjelasan dari teks karya Kiai Irfan Hielmy. Spesialnya, di bab ini dilampirkan beberapa amalan yang secara istikamah diamalkan oleh Almaghfurlah K.H. Achmad Fadlil dan almaghfurlah K.H. Irfan Hielmy, yakni doa ism al-a’zham dan ayat al- hifzh.

Di bagian akhir terdapat lampiran yang berisi profil terkini Pesantren Darussalam Ciamis. Bagian ini tak kalah penting sebagai informasi yang komprehensif tentang Darussalam terkini, termasuk apa saja proyeksi ke depan.

Buku ini sangat layak dimiliki untuk dibaca oleh santri, guru, alumni, dan masyarakat umum. Bagi alumni, buku ini dapat menjadi pengingat tentang kisah perjuangan Kiai Irfan Hielmy. Setidaknya, spirit perjuangan yang dimiliki beliau dapat terus tertanam dalam diri para alumninya dalam ladang pengabdian yang beragam.

Buku ini menjadi pembuktian tentang berkah kiai yang senantiasa tercurahkan  kepada para santrinya. Alumni Pesantren Darussalam Ciamis saat ini telah menyebar di pelbagai tempat pengabdian. Kiprah alumni Darussalam menjadi bukti keberhasilan Kiai Irfan Hielmy dalam membentuk fondasi keilmuwan, keislaman, dan keindonesiaan bagi para santrinya.

Penulis adalah Alumnus MAPK Pondok Pesantren Darussalam Tahun 1995/Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Sumber: https://masjiduna.com/2021/02/03/manaqib-k-h-irfan-hielmy-sang-kiai-moderat/